Esai terbaru di LitHub mempertanyakan apakah Scholastic Book Fair, tradisi pameran buku sekolah berusia lebih dari 50 tahun, masih sama seperti dulu.

Ada satu momen yang mungkin masih membekas di kepala siapa pun yang pernah duduk di bangku sekolah dasar atau menengah di Amerika Utara: hari ketika perpustakaan sekolah tiba-tiba berubah wajah. Rak-rak buku disingkirkan, meja-meja panjang berjajar penuh warna, dan sebuah katalog mengilap dibagikan ke setiap murid seperti undangan pesta. Itulah Scholastic Book Fair, tradisi yang sudah berjalan lebih dari lima puluh tahun dan menjelma semacam sirkus tahunan bagi para pembaca cilik.

Bagi generasi yang tumbuh bersamanya, pameran buku ini bukan sekadar acara jual-beli. Ia adalah ritus peralihan kecil: momen ketika anak-anak untuk pertama kalinya diberi kepercayaan memegang uang saku sendiri dan memutuskan buku apa yang layak dibawa pulang. Ada aroma buku baru, sampul-sampul mengkilap, dan kegembiraan yang sulit dijelaskan pada siapa pun yang tak pernah mengalaminya langsung.

Pertanyaan yang Mengusik Nostalgia

Namun nostalgia semacam ini tak pernah benar-benar aman dari sorotan kritis. Pekan ini, lewat sebuah esai di LitHub, seorang kritikus bernama Michelle mengangkat pertanyaan yang terdengar sederhana namun menohok: apakah Scholastic Book Fair yang kita kenang dengan penuh sayang itu masih sama seperti dulu, atau justru sudah berubah menjadi sesuatu yang lain sama sekali?

Pertanyaan semacam itu wajar muncul di tengah industri penerbitan yang terus bergeser. Acara yang dulu identik dengan buku murah dan mudah dijangkau kini beroperasi di tengah lanskap ritel anak yang jauh lebih ramai, tempat buku harus berbagi perhatian dengan berbagai produk turunan lain. Ketika sebuah institusi bertahan setengah abad, ia otomatis menjadi cermin: setiap perubahan kecil terasa seperti pengkhianatan bagi mereka yang mengenangnya sebagai sesuatu yang murni.

Antara Bisnis dan Cinta pada Buku

Terlepas dari benar atau tidaknya tudingan bahwa pameran ini sudah bergeser jauh dari akarnya, ada nilai penting dalam mempertanyakannya. Scholastic Book Fair, disukai atau tidak, adalah salah satu titik kontak pertama banyak anak dengan dunia literasi di luar buku pelajaran. Jika formatnya berubah, pertanyaannya bukan cuma soal nostalgia orang dewasa, tapi juga soal pengalaman apa yang sedang dibentuk untuk generasi pembaca berikutnya.

Kita mungkin tidak akan pernah sepenuhnya sepakat apakah pameran ini masih layak disebut kesayangan seperti yang tersirat dari judul esai tersebut. Namun diskusi semacam ini mengingatkan bahwa cinta pada buku, sekecil apa pun bentuknya, termasuk lewat katalog murah dan meja lipat di perpustakaan sekolah, tetap layak dijaga agar tidak sekadar menjadi bagian dari mesin dagang semata.