Sejumlah penjual buku independen AS mengirim surat terbuka memperingatkan dampak memo keamanan Trump, NSPM-7, terhadap kebebasan berekspresi di toko buku.

Dunia perbukuan Amerika Serikat tengah diliputi kegelisahan. Sekelompok penjual buku independen mengirimkan surat terbuka kepada American Booksellers Association (ABA) dan American Booksellers for Free Expression (ABFE), menyampaikan apa yang mereka sebut sebagai "keprihatinan mendesak" atas sebuah memo keamanan yang diteken pemerintahan Trump tahun lalu: National Security Presidential Memorandum 7, atau yang lebih dikenal sebagai NSPM-7.

Memo tersebut, menurut para penandatangan surat, membingkai gerakan antifasis sebagai ancaman keamanan nasional—sebuah langkah yang mereka khawatirkan bisa merembet jauh melampaui ranah kebijakan luar negeri atau penegakan hukum, dan menyentuh langsung ruang-ruang di mana buku dijual, dipajang, dan dibicarakan.

Toko buku sebagai ruang gagasan yang rentan

Bagi banyak pelaku industri buku independen, toko bukan sekadar tempat transaksi. Ia adalah ruang publik kecil tempat gagasan-gagasan yang tidak selalu populer—termasuk yang bersinggungan dengan sejarah fasisme, gerakan sosial, atau kritik terhadap otoritarianisme—bisa dipajang dan didiskusikan tanpa rasa takut. Kekhawatiran para penjual buku ini masuk akal jika ditempatkan dalam konteks itu: ketika sebuah istilah politik seperti "antifasis" didefinisikan secara longgar dalam dokumen keamanan negara, ruang abu-abu yang tercipta bisa dengan mudah menyeret buku, penulis, atau bahkan toko yang memajang karya-karya bertema tersebut ke dalam sorotan yang tidak semestinya.

Surat terbuka ini juga menyoroti peran ABA dan ABFE sebagai garda depan yang selama ini membela hak toko buku untuk memilih dan menjual literatur secara bebas, termasuk buku-buku yang kerap menjadi target upaya pelarangan di berbagai negara bagian AS dalam beberapa tahun terakhir. Para penanda tangan mendesak kedua organisasi itu untuk mengambil sikap yang lebih tegas dan transparan dalam merespons implikasi NSPM-7 terhadap kebebasan berekspresi di sektor perbukuan.

Kenapa ini penting bagi pembaca di luar AS

Perdebatan semacam ini mungkin terasa jauh dari rak-rak toko buku di Indonesia, tetapi ia menyentuh isu yang universal: batas antara keamanan negara dan kebebasan literasi selalu tipis dan mudah bergeser, terutama saat kekuasaan politik berganti arah. Sejarah mencatat, dari masa ke masa dan dari negara ke negara, toko buku dan perpustakaan kerap menjadi salah satu institusi pertama yang merasakan getaran ketika ruang demokrasi mulai menyempit. Perkembangan kasus NSPM-7 ini layak terus diikuti, bukan hanya sebagai berita politik Amerika, melainkan sebagai pengingat betapa rentannya ekosistem buku terhadap tekanan dari luar dirinya sendiri.