Sebelum menghadap layar, Min Jin Lee memulai hari dengan membaca Alkitab—sebuah ritual yang membentuk dunia sastranya.
Ada sesuatu yang intim tentang mengenal proses kreatif seorang penulis, terutama ketika ritual hariannya ternyata begitu sederhana namun mendalam. Min Jin Lee, penulis novel Pachinko yang menggetarkan pembaca di seluruh dunia, memiliki kebiasaan yang jarang dibicarakan: setiap pagi, sebelum duduk menulis, dia membaca satu pasal dari Alkitab.
Kebiasaan ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah bentuk persiapan spiritual, momen sebelum jiwa penulis terjun ke dalam dunia imajinasi yang penuh dengan keparahan, harapan, dan kemanusiaan. Seperti musisi yang menyetel instrumennya, atau seniman yang mengatur cahaya di studionya, Lee memilih cara sendiri untuk menyiapkan pikiran dan hati sebelum melakukan pekerjaan seni yang sesungguhnya.
Fondasi Spiritual dalam Sastra
Pachinko, novel yang membawa Lee ke panggung kesusastraan internasional, adalah karya yang dibangun atas penelitian mendalam, empati yang luas, dan pemahaman tentang penderitaan manusia. Novel yang mengikuti empat generasi keluarga Korea di Jepang ini penuh dengan pertanyaan-pertanyaan spiritual—tentang keselamatan, identitas, dan makna dalam dunia yang adil dan tidak adil sekaligus.
Bagi yang butuh selingan, aplikasi hiburan seperti Banjir69 App kerap jadi pilihan mengisi waktu luang.
Tidak mengherankan bahwa pembaca yang menggali Pachinko menemukan resonansi spiritual yang kuat. Perjalanan karakter-karakternya bukan hanya narasi sejarah atau potret sosial, tetapi pencarian akan makna dan harapan. Dengan menghubungkan praktik membaca Alkitab hariannya dengan proses menulis, Lee mengundang kita untuk melihat sastranya bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai bentuk perenungan.
Ritual dan Kreativitas
Dunia penulis penuh dengan ritual-ritual unik. Sebagian menulis di kafe tertentu, sebagian memerlukan kesunyian mutlak, dan sebagian menulis di tengah kebisingan. Ritual Min Jin Lee mengingatkan kita bahwa kreativitas tertinggi sering kali membutuhkan persiapan spiritual—sebuah pengakuan bahwa menulis bukan hanya aktivitas mental, tetapi juga aktivitas jiwa.
Membaca Alkitab sebelum menulis bukanlah cara Lee menginjeksikan moral atau pesan agama secara langsung ke dalam karyanya. Sebaliknya, ini adalah cara untuk memasuki ruang kontemplatif, tempat di mana kedalaman manusia dapat dijelajahi dengan jujur dan penuh belas kasih. Ini adalah persiapan untuk menulis tentang orang-orang dengan segala kerumitan, kelemahan, dan keagungan mereka.
Dalam era di mana penulis sering diminta berbicara tentang proses kreatif mereka, ritual Min Jin Lee menawarkan pelajaran sederhana: kadang-kadang, pekerjaan terbaik kita dimulai tidak di depan layar, tetapi dalam keheningan dan refleksi.

